Kontroversi Pernyataan Presiden, Pengamat: Banyak Negara Kecil Ekonominya Tumbuh Tinggi

Kontroversi Pernyataan Presiden, Pengamat: Banyak Negara Kecil Ekonominya Tumbuh Tinggi

Pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait pertumbuhan ekonomi Indonesia baru-baru ini dikritik oleh Ekonom dari Media Hong Kong, South China Morning Post Jake Van Der Kamp. Dirinya mempertanyakan ucapan Jokowi tentang pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berada di level 5,02% atau menempati peringkat ketiga dunia pada 2016.

Padahal menurut perhitungannya, setidaknya ada 13 negara yang memiliki pertumbuhan ekonomi di atas Indonesia. Seperti India 7,5%, Laos 7,4%, Myanmar 7,3, Kamboja 7,2, Bangladesh 7,1%, Filipina 6,9%, dan China 6,7%.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Ekonom PT Bank Central Asia BCA David Sumual mengatakan, jika yang dimaksud bukanlah dunia melainkan pertumbuhan ekonomi di antara negara-negara G20. "Selama ini kita selalu bilang kalau itu (pertumbuhan ekonomi) di G20. Kalau kita lihat memang banyak negara-negara dengan size yang kecil namun pertumbuhannya memang besar. Contohnya di dunia adalah negara Filipina," ungkapnya.

Hal senada juga diungkapkan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Menurutnya yang dimaksud bukanlah pertumbuhan tertinggi di dunia. Indonesia pun masih berada di bawah negara-negara yang ternyata memiliki pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan Indonesia. "Kan slide-nya disebutkan di dalam G20. Jadi kalau yang dia baca itu yang dia lihat kemudian dikomentarkan, seluruh dunia kan negara-negara banyak yang income-nya lebih rendah dibandingkan Indonesia pertumbuhannya tinggi," kata Sri Mulyani di Kompleks Istana Negara.

Komentar